Pages

Ads 468x60px

Selamat Datang

TERIMA KASIH ANDA MENGUNJUNGI BLOG INI, SEMOGA BERMANFAAT !!!

Matinya Filsafat Pendidikan Islam

Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup. Jika pendidikan sekedar untuk persiapan hidup, maka pendidikan terjebak dalam hal-hal pragmatis. Keterjebakan ini membawa pada hal-hal teknis, serba konkrit, juklak, dan juknis. Ujungnya adalah kehambaran dalam pendidikan.
Penyebab hambarnya pendidikan adalah lepasnya praksis pendidikan dari pijakannya yakni filsafat. Filsafat dalam pendidikan sangat berperan dalam proses transfer of knowledge dan transfer of values. Dalam transfer of knowledge membutuhkan bagian dari filsafat yakni ontologi (objek materi) dan epistemologi (hakikat ilmu pengetahuan) dan dalam transfer of values berkaitan dengan aksiologi.

Sebab-sebab kematian filsafat dalam pendidikan :
Menurut penulis ada enam hal yang menyebabkan filsafat tidak berkembang dalam pendidikan nasional baik pada level kebijakan maupun pada level praksis.

Pertama; kebijakan pendidikan terjebak pada hal-hal teknis seperti penyusunan POS (Prosedur Operasional Standar). Yang diurus dan diperhatikan tidak jauh dari apa yang disebut mekanisme.

Kedua; pelaku pendidikan (utamanya pendidik) terjebak dalam hal-hal yang sifatnya text book. Mungkin hal ini bisa dimaklumi karena beban materi pelajaran yang harus disampaikan sangat banyak, apalagi adanya tuntutan kejar target untuk mengantarkan peserta didiknya lulus ujian nasional.

Ketiga; pemahaman pendidik tentang filsafat pendidikan itu sendiri masih kurang, sebab bekal yang diperoleh sewaktu kuliah tidak lebih dari dua SKS, itupun disajikan dalam MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum).

Keempat; kurangnya buku filsafat yang bahasanya relatif sederhana. Selama ini banyak orang yang enggan membaca apalagi mendalami filsafat karena bahasanya susah untuk dimengerti. Untuk memahami satu kalimat saja perlu dibaca berulang-ulang. Sebenarnya hal ini bisa dimaklumi karena kebanyakan buku-buku filsafat yang ada adalah terjemahan.

Kelima; ada opini publik yang memandang filsafat sebagai hal yang negatif, adapula yang memandang filsafat sebaiknya dipelajari diusia senja. Pandangan ini disebabkan maraknya mahasiswa filsafat yang berkelakuan aneh-aneh, nyentrik yang terkadang menjadi sesuatu yang ekstrim dalam perspektif masyarakat umum.

Keenam; semakin minimnya mahasiswa yang tertarik mengambil jurusan filsafat. Hal ini disebabkan oleh prospek yang bagi kebanyakan orang dipandang kurang bagus jika dibanding fakultas teknik, kedokteran, MIPA, atau komunikasi dan psikologi.

Pentingnya revitalisasi

Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan harus dijaga dan dikembangkan eksistensinya. Sebab tanpa adanya filsafat—utamanya dalam pendidikan—akan mematikan daya kritis, daya nalar, dan daya kreatif peserta didik. Untuk revitalisasi tersebut ada beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

Pertama; memasukkan mata pelajaran dasar-dasar filsafat dalam pendidikan level menengah atas (SMA/SMK/MA). Selama ini yang ada baru materi logika yang dititipkan dalam mata pelajaran matematika. Dasar-dasar filsafat penting untuk dikuasai pada anak level SMA sebab akan membekali dasar-dasar keilmuan yang kuat pada siswa. Siswa akan tahu objek formal yang dipelajari mata mata pelajaran (ontologi), siswa menjadi tahu dan akan kritis terhadap hakikat pengetahuan yang dipelajari (epistemplogi), dan siswa dapat mengimplementasikan nilai yang diperoleh dari kajian yang dipelajari (aksiologi).

Kedua; materi pelajaran dalam kurikulum hendaknya memicu daya kritis, bukannya malah mekanis. Jadi dalam setiap kompetensi dasar ada peluang untuk dikritisi semisal mengapa materi ini dipelajari, bagaimana materi ini terbentuk, bagaimana kebenaran materi yang dipelajari, dan lain sebagainya.

Ketiga; memperbanyak buku filsafat yang dapat dicerna anak-anak usia sekolah. Idealnya bahasanya sederhana tetapi membangkitkan daya kritis siswa.

Keempat; perlunya kesadaran bagi individu untuk menjaga eksistensi filsafat, terlebih bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia atau jurusan filsafat. Untuk menjaga eksistensi jurusan filsafat rasanya tidak perlu harus bersikap aneh-aneh yang bisa menyebabkan banyak orang enggan untuk mempelajari atau memilih jurusan filsafat. Tidak pula harus senantiasa melakukan reinterpretasi sesuatu atau kajian yang given dari Tuhan karena hal ini bisa jadi kontra produktif.

Kelima; pentingnya memasukkan unsur-unsur filsafat dalam setiap mata pelajaran, sebab pada hakikatnya semua materi pelajaran yang dipelajari adalah bagian dari filsafat itu sendiri.